Floca - Santai Sambil Update

collapse
Home / Intim / Di Balik Mitos Daging Kambing dan Stamina Seksual
Di Balik Mitos Daging Kambing dan Stamina Seksual

Di Balik Mitos Daging Kambing dan Stamina Seksual

2026-02-24  Ikhsan Digdo  185 views

Bersama dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.GK, AIFO-K, Dokter Spesialis Gizi Klinik  

Floca.id - Aroma sate mengepul. Tawa pecah di meja makan. Lalu seperti biasa, muncul celetukan yang tak pernah absen dari meja makan: “Katanya bisa bikin stamina naik.”

Daging kambing dan stamina seksual seolah sudah lama berjalan beriringan dalam obrolan santai. Mitosnya hidup, diwariskan dari cerita ke cerita. Tapi benarkah demikian?

Dalam sesi doorstop bersama floca.id setelah seminar Klinik Bamed di Jakarta beberapa waktu lalu, dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.GK, AIFO-K, Dokter Spesialis Gizi Klinik, mencoba meluruskan hal tersebut.

Butuh penelitian lebih lanjut

Daging kambing menurut Karina memiliki beberapa kandungan nutrisi yang penting yaitu protein, zinc, zat besi, vitamin B, dan beberapa mineral lainnya. Protein dapat meningkatkan pembentukan hormon termasuk testosterone. 

“Daging kambing juga mengandung zinc, suatu mineral yang dapat memproduksi hormon testosterone yang dapat meningkatkan libido. Namun ada juga beberapa penelitian yang menyatakan efek tersebut tidak signifikan,” kata dr.Karina kepada floca.id.

 

Cerita lainnya dari Floca:

5 Resolusi agar Keintiman Makin Hangat

 

Manfaat daging kambing

Manfaat daging kambing
Daging kambing mengandung protein tinggi. (Foto: Unsplash/David Foodphototasty)

Lalu, apa sebenarnya manfaat daging kambing? “Namanya daging, itu sumber protein,” jelasnya.

Daging kambing merupakan salah satu sumber protein. Sumber protein hewani didapatkan dari daging ayam, daging merah, ikan, dan telur.

Namun ada hal yang perlu diperhatikan.

Menurut dr. Karina, daging kambing memiliki kandungan lemak yang relatif lebih tinggi dibandingkan ayam atau ikan. Jika dikonsumsi berlebihan dan rutin, hal itu berpotensi meningkatkan kadar kolesterol, asam urat, penyakit jantung, hingga tekanan darah.

“Tapi kalau hanya sesekali, misalnya sebulan sekali, seharusnya tidak berpengaruh,” katanya.

Tidak ada batasan angka yang kaku soal seberapa banyak boleh dikonsumsi. Kuncinya ada pada frekuensi dan keseimbangan pola makan secara keseluruhan. Konsumsi sesekali, dalam jumlah wajar, umumnya masih aman bagi orang sehat.

 

Cerita lainnya dari Floca:

Belajar Peka, 4 Kesalahan Pria di Ranjang

 

Makanan yang dapat meningkatkan stamina seksual

Manfaat Cokelat
Cokelat membuat bahagia yang secara tidak langsung meningkatkan hasrat. (Foto: Unsplash/Towfiqu barbhuiya)

Lalu, adakah makanan yang memang secara ilmiah terbukti dapat membantu meningkatkan stamina seksual?

Menurut Laman WebMD, Sejumlah penelitian menunjukkan ada beberapa makanan yang kandungan nutrisinya memang berkaitan dengan hormon, aliran darah, dan mood, tiga hal yang berpengaruh pada stamina seksual.

Tiram misalnya, kaya zinc yang membantu produksi testosteron. Delima dikenal sebagai simbol kesuburan dan ternyata jusnya bisa membantu aliran darah serta meningkatkan hormon terkait gairah. Cokelat pun tak cuma soal romantisme, ia memicu serotonin dan zat kimia otak yang membuat perasaan lebih bahagia dan dari situ, hasrat bisa ikut terangkat.

Selain itu, bayam mengandung magnesium dan zat besi yang mendukung energi serta fungsi hormonal. Semangka kaya citrulline yang membantu pembuluh darah lebih rileks, alpukat memberi asupan lemak sehat untuk energi yang lebih stabil, dan stroberi dengan vitamin C membantu meredakan stres sekaligus mendukung hormon “cinta”.

Bahkan secangkir kopi atau teh lewat kafeinnya bisa memberi dorongan kecil pada sistem saraf. Intinya sederhana: ketika nutrisi tercukupi, aliran darah lancar, dan suasana hati terjaga, stamina seksual pun cenderung ikut membaik tanpa perlu bergantung pada mitos semata.

Percakapan tentang stamina seksual mungkin akan terus menjadi bagian dari budaya meja makan. Namun, dari sudut pandang medis, stamina bukan ditentukan oleh satu jenis makanan saja.

Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, kualitas tidur, serta kondisi kesehatan secara menyeluruh jauh lebih berperan dalam menjaga performa tubuh, termasuk dalam aspek seksual. (ikh)

 


Share: