Floca - Santai Sambil Update

collapse
Home / Hidup / Ingin Kembali ke Cove Antasari
Ingin Kembali ke Cove Antasari

Ingin Kembali ke Cove Antasari

2026-03-25  Ikhsan Digdo  263 views

Floca.id - Di 10 hari terakhir Ramadan 2026, panas terasa lebih menyengat dari biasanya. Matahari seperti menekan kepala sejak siang. Dalam kondisi seperti itu, yang terbayang hanya satu: rebahan di kamar sejuk dengan pendingin ruangan.

Dari situ, ingatan saya mengarah ke sebuah kamar di kawasan Antasari, Jakarta Selatan.

Beberapa hari sebelumnya, saya sempat mengunjungi salah satu properti co-living milik Cove di kawasan tersebut yang dinamakan Cove Prima. Sore itu, setelah sesi bincang santai "Cove Iftar Dialogue: 2026 Co-living Outlook”, saya dan teman-teman media lainnya diajak melihat langsung salah satu kamar yang tersedia.

Pintu dibuka. Udara dingin langsung terasa.

Cove Antasari
Cove Prima - Antasari. (Foto: Cove)

Di dalamnya, kasur queen ditempatkan di atas platform mezanin berlantai kayu, sedikit lebih tinggi dari lantai utama. Penataan ini membuat ruang terasa lebih lapang, sekaligus memberi sudut pandang berbeda ke seluruh kamar.

Di sisi lain, jendela dengan balkon menghadap ke utara. Alhasil, cahaya masuk dengan lembut, membuat ruangan terang tanpa menyilaukan.

Di balik kamar yang nyaman ini, Cove ternyata punya ambisi besar.

“Cove ini targetnya mungkin pada akhir tahun bisa memiliki lebih dari 8.000 kamar,” ujar Rizky Kusumo, Country Director of Investment Cove dalam sesi bincang tersebut.

 

Cerita lainnya dari Floca:

3 Hunian Baru Cove Sesuai Fase Hidup Kita

 

Berbagi, tapi Tetap Punya Ruang Sendiri

Cove
Ruang komunal di COVE Antasari. (Foto: Cove)

Cove mengusung konsep co-living, di mana penghuni tidak hanya memiliki kamar pribadi, tetapi juga berbagi beberapa area bersama. Misalnya dapur dan lounge. Ruang-ruang ini bisa digunakan untuk memasak, bersantai, atau sekadar berkumpul.

Penghuni bisa menggunakan fasilitas bersama, sekaligus mengundang tamu di area-area komunal. Meski begitu, ada aturan yang dibuat untuk menjaga kenyamanan.

“Kalau weekdays jam 9, kalau weekend jam 11 malam. Jadi enggak ganggu privasi juga,” kata Citra Rufina, Senior Marketing Manager Cove.

Jika ada gangguan, penghuni juga bisa melaporkannya ke pengelola.

“Jadi sebenarnya kita tetap ingin jaga privasi orang juga,” ujarnya.

 

Cerita lainnya dari Floca:

Cove Resmikan 5 Properti Co-Living di Jakarta: Tempat Kamu ‘Pulang’ dengan Nyaman

 

 

Alternatif Hunian untuk Anak Muda Kota

17743979172052874956128367628848.jpg
Rizky Kusumo, Country Director of Investment Cove. (Foto: Cove)

Di sisi lain, harga rumah di Jakarta terus meningkat. Bagi banyak anak muda, terutama yang baru mulai bekerja, memiliki rumah di lokasi strategis masih terasa jauh.

Dalam kondisi seperti ini, co-living jadi salah satu alternatif. Bukan pengganti rumah, tapi tempat tinggal yang lebih masuk akal untuk saat ini.

“Kita melihat co-living ini sebagai salah satu alternatif housing,” kata Rizky.

Ia juga menyebut, berdasarkan riset internal, generasi muda masih menjadikan kepemilikan rumah sebagai rencana jangka panjang. Sementara untuk sekarang, menyewa dinilai lebih sesuai dengan kondisi finansial.

“Co-living ini tuh masih worth it dan masih worth buat anak-anak muda sekarang ini yang mau kerja,” tutupnya.

Pada akhirnya, mungkin bukan soal seberapa cepat seseorang memiliki rumah. Kadang, yang dibutuhkan justru tempat yang cukup nyaman untuk pulang, beristirahat, dan bersiap menjalani hari berikutnya. (ikh)


Share: