Floca.id – Dunia anak adalah ruang imajinasi tanpa batas. Di TK Islam PB Soedirman, Cijantung, keriuhan pecah saat anak-anak usia 5-7 tahun mencoba beragam profesi. Mereka belajar bahwa menjadi apa pun di masa depan bukan soal jenis kelamin, melainkan soal impian.
Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia hadir membawa misi penting lewat cara yang seru. Anak-anak diajak menonton video profesi dan bermain peran dengan skenario sederhana tanpa sekat gender. Edukasi ini dikemas menyenangkan agar nilai kesetaraan mudah diserap oleh logika polos anak-anak.
Edukasi Krusial untuk Masa Depan
Dr. Atin Fitriana selaku Ketua Tim menekankan bahwa pemahaman ini sangat krusial bagi masa depan siswa. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak menyadari bahwa setiap profesi bisa ditekuni oleh siapa saja.
Tak hanya praktik, tim juga membagikan buku cerita bergambar sebagai teman belajar siswa. Buku ini dirancang agar literasi kesetaraan gender bisa diakses secara mandiri di sekolah. Harapannya, nilai-nilai tersebut menjadi pondasi kuat bagi cara berpikir mereka sejak dini.
Suasana kelas mendadak hidup saat para siswa berebut menjawab pertanyaan tim pengabdi. Beberapa anak bahkan dengan berani mengajukan diri memerankan profesi tertentu tanpa harus ditunjuk.
Cerita lainnya dari Floca:
Membangun Masa Depan dari Bangku Sekolah
Keberhasilan metode ini dirasakan langsung oleh tenaga pendidik yang mendampingi selama kegiatan. Guru TK PB Soedirman, Alfi, mengapresiasi dampak positif yang terlihat jelas pada pemahaman siswanya. Pesan tentang kesamaan hak mulai berakar di pikiran kecil mereka.
“Dengan adanya kegiatan ini, anak-anak lebih memahami, kesetaraan gender itu maksudnya baik laki-laki atau perempuan bisa berprofesi sama, atau setara,” ungkap Alfi.
Langkah dari tim UI ini adalah persiapan agar anak-anak bisa berpartisipasi setara dalam segala aspek kehidupan. Masa depan yang adil memang sudah seharusnya dimulai dari bangku taman kanak-kanak. (ikh)