Floca.id – Teknologi kadang terasa dingin. Layarnya bersinar, performanya ngebut, tapi rasanya… hampa. Seolah ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh kecanggihan semata. Dan di sinilah seni masuk.
Muklayground hadir untuk mengisi ruang itu. Digimap menggandeng Muklay, seniman muda dengan karakter visual yang riang dan penuh warna, untuk mengajak kita menatap benda sehari-hari dengan cara berbeda. Bukan sekadar tas laptop atau case AirPods mungil, tapi potongan cerita, sejumput kepribadian, dan percikan imajinasi yang menempel di benda-benda yang kita pakai tiap hari.
Inspirasi yang lahir dari keseharian

Setiap desain Muklay lahir dari energi pelanggan Digimap: anak muda yang aktif, enerjik, yang kesehariannya selalu dekat dengan teknologi. Dalam bentuk sederhana seperti MacBook bag atau case mungil, terselip refleksi gaya hidup kita, siapa kita hari ini, apa yang kita sukai, dan bagaimana kita ingin dikenang bahkan lewat benda mati sekalipun.
Muklay juga menjadi semacam mentor bagi seniman muda, mengingatkan bahwa seni tidak jauh dari kita. Ia bisa hadir di keseharian, menemani perjalanan, sama seperti perangkat yang kita bawa ke mana-mana.
“Kami yakin karya seni dapat divisualisasikan dalam berbagai medium dan menghasilkan mahakarya terbaik,” ujar Farah Fausa Winarsih, GM Marketing PT. MAP Zona Adiperkasa, saat jumpa pers di Digimap PIM 3, Jakarta Selatan pekan lalu.
Cerita lainnya dari Floca:
Koleksi yang punya cerita

Kini, merchandise Muklay x Digimap bisa ditemukan di beberapa gerai pilihan. Harga? Rp799 ribu untuk MacBook bag, Rp299 ribu untuk AirPods Case Plushie.
Lebih dari sekadar collectible, barang-barang ini hadir sebagai teman stylish untuk perangkat canggih kita, sekaligus pengingat bahwa benda sehari-hari bisa menyimpan cerita.
Floca Reminder
Kita sering lupa, perangkat yang menemani kita sehari-hari bukan cuma soal fungsi. Ada rasa, ada makna, ada potongan diri kita yang ikut menempel di dalamnya.
Muklayground mengingatkan bahwa teknologi bisa lebih manusiawi ketika diberi sentuhan seni. Dan mungkin, hidup terasa lebih penuh bukan karena alat yang kita miliki canggih, tapi karena kita bisa melihat diri sendiri di dalamnya. (ikh)