Floca.id - Di depan layar laptop, semuanya terlihat normal. Pekerjaan berjalan, target dikejar, dan senyum tetap diberikan. Namun, di balik rutinitas tersebut, sebagian pekerja ternyata menyimpan kelelahan yang tidak terlihat hingga berujung pada burnout.
Fenomena ini kini menjadi perhatian di dunia kerja. Banyak karyawan terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi masih membutuhkan ruang yang aman untuk membicarakan kondisi fisik maupun mental.
43 persen karyawan burnout
Riset terbaru menunjukkan adanya paradoks dalam dunia kerja Indonesia. Berdasarkan Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK, Indonesia mencatat tingkat kebahagiaan kerja tertinggi di Asia-Pasifik dengan angka 82 persen.
Namun, kebahagiaan tersebut berjalan beriringan dengan tantangan lain. Sebanyak 43 persen pekerja Indonesia mengaku mengalami burnout, kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan fisik maupun emosional akibat tekanan pekerjaan.
Temuan tersebut sejalan dengan riset global yang digagas British Standards Institution (BSI). Studi ini menunjukkan perusahaan dapat meningkatkan produktivitas ketika mampu membangun budaya kerja yang membuat karyawan merasa aman untuk membicarakan kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Global Head of Human and Social Sustainability BSI, Kate Field, mengatakan kepercayaan menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
"Kesejahteraan di tempat kerja dimulai dari budaya saling percaya. Ketika karyawan menghadapi tantangan kesehatan, perusahaan tetap dapat mengambil peran. Ada langkah-langkah sederhana namun berarti yang dapat dilakukan untuk mendukung karyawan, sekaligus menjaga kinerja dan ketahanan organisasi," ujarnya.
Cerita lainnya dari Floca:
Produktivitas karyawan lahir dari dukungan perusahaan
Riset Centre for Economics and Business Research (CEBR) menunjukkan bahwa dukungan terhadap kesehatan dan kesejahteraan karyawan memiliki kaitan dengan produktivitas serta retensi tenaga kerja.
Sebaliknya, ketika karyawan tidak merasa nyaman menyampaikan masalah yang dialami, perusahaan berisiko menghadapi absenteisme, presenteism atau kondisi ketika seseorang tetap bekerja meski sedang tidak sehat, hingga meningkatnya pergantian karyawan.
Managing Director BSI Indonesia, Nolia Natalia, menilai perusahaan perlu melihat kesejahteraan karyawan lebih dari sekadar angka kehadiran atau pencapaian target.
"Para pekerja melaporkan bahwa mereka bahagia di tempat kerja, tetapi burnout dan tantangan kesehatan mental tetap signifikan. Perusahaan perlu membangun budaya kepercayaan, di mana karyawan merasa aman untuk mencari dukungan dan percaya tindakan tersebut akan membawa perubahan," katanya. (ikh)
Foto Cover: Unsplash/charlesdeluvio