Floca.id - Lift berhenti di lantai dua Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat. Begitu pintu terbuka, mata saya langsung menangkap sebuah ruangan dengan kaca transparan dan nama panjang yang berkilau: RUDOLF SIMADIBRATA Gastroentero-Hepatology & Endoscopy Center.
Dari luar tampak rapi dan modern, tapi yang terlintas di benak saya bukanlah desainnya. Saya membayangkan seorang pasien IBD melangkah masuk dengan wajah cemas, berharap ada jawaban untuk sakit yang tak kunjung reda.
Inflammatory Bowel Disease (IBD) bukan sekadar radang usus. Menurut Prof. dr. Marcellus Simadibrata, penyakit autoimun ini menyerang sistem pencernaan dengan cara yang melelahkan: nyeri berulang, peradangan, hingga komplikasi serius. “Prevalensi IBD terus meningkat di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik,” katanya dalam peresmian siang itu.
One Stop Solution untuk IBD

Ruang baru ini dirancang sebagai one stop solution untuk mengatasi IBD. Dari diagnosis, endoskopi, sampai perawatan lanjutan, semua ada dalam satu jalur. Bagi pasien yang selama ini harus berpindah rumah sakit demi mencari kepastian, konsep ini bisa terasa seperti titik terang.
Abdi Waluyo tak berdiri sendiri. Sejak 2023, mereka bermitra dengan University of Chicago, pusat riset IBD kelas dunia. Ada diskusi kasus bulanan, webinar ilmiah, hingga dokter-dokternya belajar langsung di Chicago.
Kasus-kasus rumit pun ditangani bersama para pakar global. Ditambah lagi, Abdi Waluyo kini menjadi anggota pertama dari Indonesia di The European Crohn’s and Colitis Organization (ECCO).
"Adapun beberapa dokter spesialis tim IBD RS Abdi Waluyo sudah melakukan kunjungan langsung ke University of Chicago untuk melakukan observership,” jelas Prof. Marcel.
Cerita lainnya dari Floca:
Sunyi, Radioaktif, dan Harapan: Menyusuri Ruang Nuklir RS EMC Grha Kedoya
Tiga ‘Wajah' IBD

IBD hadir dalam tiga wajah: Ulcerative Colitis (UC), Crohn’s Disease (CD), dan Colitis Indeterminate (Unclassified). Gejalanya sering kali menipu, nyeri perut yang kambuhan, perubahan pola buang air besar, BAB berdarah, hingga berat badan yang turun tanpa sebab jelas.
Menurut dr. Paulus Simadibrata, diagnosis tak berhenti pada dugaan semata. Ia lahir dari rangkaian pemeriksaan, mulai dari feses, darah, radiologi, sampai endoskopi, lalu diukur tingkat keparahannya lewat sistem skoring.
Namun, perjalanan penyintas IBD tak berhenti di meja diagnosis.
“Tatalaksana biasanya memakai terapi obat, baik tablet maupun injeksi,” jelas dr. Amanda Pitarini Utari, yang juga hadir di peresmian itu.
Tapi tak jarang, jalan menuju kesembuhan menuntut pembedahan, atau kombinasi keduanya. Bahkan vaksinasi pun disarankan, demi mencegah infeksi yang bisa memperparah kondisi.
Floca Reminder
Pada akhirnya, IBD bukan hanya soal tubuh yang melemah. Ia menuntut kesabaran, ketangguhan, dan kerja sama multidisiplin antara dokter dan pasien untuk mencapai kesembuhan.
Saat berdiri di depan pintu kaca itu, saya sadar: ini bukan sekadar ruangan baru. Ini simbol bahwa pasien IBD di Indonesia kini punya alasan untuk lebih optimistis. Mereka bisa ikhtiar lebih kuat lagi untuk sembuh dari penyakit tersebut. (ikh)