Floca - Santai Sambil Update

collapse
Home / Raga / MENARI Bersama Detak Jantung untuk Sambut Pulse Day 2026
MENARI Bersama Detak Jantung untuk Sambut Pulse Day 2026

MENARI Bersama Detak Jantung untuk Sambut Pulse Day 2026

2025-11-16  Floca Team  162 views

Floca.id - Di tengah ritme hidup yang makin cepat, ada satu hal yang sering terlupakan, irama jantung kita sendiri. Padahal, gangguan irama jantung atau aritmia bisa datang tanpa gejala, bahkan kadang muncul diam-diam sampai akhirnya bikin masalah besar.

Yang bikin miris, deteksi dini aritmia itu sebenarnya gampang banget. Cuma perlu diam sejenak, lalu meraba nadi sendiri.

Kesadaran sederhana inilah yang jadi dasar kampanye “MEraba NAdi SendiRI (MENARI)”, yang merupakan bagian dari gerakan global Pulse Day 2026. Ajakan ini mendorong masyarakat berhenti sejenak, mengecek nadi, dan memastikan ritme jantungnya masih bekerja sebagaimana mestinya.

Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, menjelaskan peran besar Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) dalam edukasi kesehatan jantung.

“APHRS merupakan organisasi yang berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pelayanan bagi pasien dengan gangguan irama jantung di kawasan Asia-Pasifik,” ujarnya kepada para jurnalis di Jakarta belum lama ini.

 

Cerita lainnya dari Floca:

Tetap Aktif, Tetap Bahagia: Saat Lansia Menemukan Teman Baru Bernama Happily

 

Pulse Day Sebagai Pengingat Risiko Aritmia

Pulse Day sendiri diperingati setiap 1 Maret yang melambangkan fakta bahwa 1 dari 3 orang di dunia berisiko mengalami aritmia serius. Salah satu fokus pentingnya adalah Atrial Fibrillation (AF).

“AF sering kali tidak menimbulkan gejala khas… langkah kecil seperti memeriksa nadi bisa berdampak besar, bahkan menyelamatkan hidup,” jelas dr. Dicky.

AF dapat memicu gumpalan darah dan berisiko menyebabkan stroke maupun gagal jantung. Gejalanya mulai dari jantung berdebar, pusing, sampai mudah lelah, tetapi sering kali diabaikan.

Sementara itu Dr. Agung Fabian Chandranegara, Sp.JP (K), FIHA, menambahkan bahwa ancaman lain yang tak kalah serius adalah Sudden Cardiac Death (SCD). “SCD menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen dari seluruh kematian global setiap tahunnya," katanya.

 

1000166322.jpg

Rendahnya Pertolongan Pertama di Indonesia

Rendahnya pertolongan pertama membuat angka keselamatan masih jauh di bawah ideal. Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) termasuk CPR dan penggunaan AED.

Sementara itu, Indonesia kini mulai membangun sistem yang lebih komprehensif lewat Blueprint Nasional Aritmia. Seperti disampaikan dr. Erika Maharani, Sp.JP (K), aritmia perlu menjadi perhatian dan ditangani agar semua orang dapat hidup sehat.

 

Cerita lainnya dari Floca:

Menopause Bukan Perjalanan Sendiri: Saat Pria Perlu Hadir untuk Mendampingi Perempuan 

 

“Dokumen ini disusun sebagai respons terhadap meningkatnya beban penyakit aritmia di Tanah Air serta masih lebarnya kesenjangan layanan,” ujarnya.

Floca Reminder

Kampanye MENARI akhirnya bukan hanya ajakan kesehatan, tapi pengingat bahwa merawat diri bisa dimulai dari hal paling sederhana: 30 detik meraba nadi—kecil, tapi bisa menyelamatkan hidup.

Sesederhana itulah ikhtiar kita untuk menjaga kesehatan. Terpenting, saat tubuh sehat, maka kita akan makin produktif. Beribadah dan berdoa juga akan terasa semakin khusyuk. (flc)


Share: